wani-23
Membangun Industri Pertahanan Nasional Berkelas Dunia

Penguatan industri pertahanan nasional menjadi kebutuhan strategis demi kedaulatan negara. Tak hanya untuk kemandirian alat utama sistem persenjataan atau alutsista, kemajuan industri ini bisa memperkuat posisi Indonesia di tingkat global. Ajang ekshibisi internasional seperti Indo Defence jadi salah satu katalis untuk mewujudkannya.

Puluhan kontrak dan kesepahaman kerja sama pembelian alutsista sering kali lahir dalam ajang pameran. Dalam Indo Defence, misalnya, kontrak dan kesepahaman tidak hanya disepakati antara Pemerintah Indonesia dan industri pertahanan negara sahabat, tetapi juga antara pemerintah negara sahabat dan industri pertahanan dalam negeri. Tak sebatas jual beli, kerja sama pengadaan alutsista itu juga bertujuan untuk transfer teknologi pertahanan.

Kerja sama pengadaan jet tempur buatan Turki, KAAN, misalnya, merupakan satu dari 35 nota kesepahaman yang diteken selama ajang Indo Defence 2025 pada 11-14 Juni di JIExpo, Kemayoran, Jakarta. Indonesia akan membeli 48 jet tempur KAAN dengan nilai kontrak 10 miliar dollar AS atau setara Rp 165 triliun dalam kurs saat ini. Jet tempur siluman generasi kelima itu ditargetkan ada di Indonesia pada 2028. Dengan teknologi siluman dan sistem senjata canggih yang dimiliki, KAAN akan menjadi tulang punggung baru pertahanan udara Indonesia di masa mendatang.

Sebelum KAAN, pemerintah lebih dulu menyepakati pembelian 42 unit jet tempur Rafale buatan Perancis. Indonesia juga meminang pesawat angkut militer Airbus A400M Atlas yang telah diantar ke Tanah Air, awal November 2025.

Sejak Mei 2025, pemerintah juga menjajaki kerja sama pembelian jet tempur J-10 buatan China. Beredar pula informasi pemerintah akan menghadirkan helikopter Sikorsky S-70M Black Hawk tipe GFA buatan Amerika Serikat.

Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan mengungkapkan, pembelian alutsista dari beberapa negara itu merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kemampuan pertahanan. Di sisi lain, pemerintah juga memberikan perhatian terhadap industri pertahanan dalam negeri. Tantangan strategis di kawasan hingga persaingan kekuatan menjadi alasan bagi pemerintah untuk meningkatkan kemampuan pertahanan.

Opsi pembelian alutsista dari beberapa negara ini dijajaki untuk menghindari terjadinya embargo. Semua alutsista itu akan memperkuat postur TNI agar semakin siap dalam menghadapi dinamika ancaman di kawasan ataupun global.

”Seiring meningkatnya kebutuhan, sangat wajar bagi Indonesia untuk memperkuat kemampuan pertahanan. Rencana akuisisi alutsista tersebut statusnya belum final atau masih dalam proses penjajakan dan negosiasi dengan tetap mengikuti kebutuhan TNI, kemampuan anggaran, serta penguatan industri pertahanan,” ujarnya.

Investasi industri nasional

Donny juga membenarkan, Indonesia masih termasuk dalam 20 negara importir senjata terbesar di dunia. Berdasarkan data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), Indonesia menduduki peringkat ke-17 dalam impor senjata dunia pada 2015-2019 dengan pangsa 1,8 persen dari total impor dunia.

Namun, pemerintah meyakini belanja pertahanan akan menjadi investasi bagi industri pertahanan Tanah Air. Belanja pertahanan dapat menumbuhkan industri nasional karena adanya transfer teknologi.

Peluang terbuka karena Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan menekankan setiap pengadaan luar negeri harus menerapkan offset, transfer teknologi, kandungan lokal, dan kewajiban imbal dagang. Bahkan, pengadaan dalam negeri juga mempertimbangkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).

Berdasarkan instrumen itu, kebijakan yang dikeluarkan Kemenhan selalu mendukung penguatan industri pertahanan dengan tetap menjamin kesiapan tempur TNI. Hal itu juga menjadi bentuk kontribusi dari sektor keamanan terhadap perekonomian negara.

”Pengadaan dari luar negeri diperlukan untuk menjawab kebutuhan mendesak dan memastikan kesiapan TNI. Namun, setiap proses pengadaan juga diiringi dengan skema transfer of technology, kerja sama produksi, ataupun peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Pada gilirannya, belanja pertahanan dapat menjadi investasi yang menumbuhkan kapasitas industri nasional,” jelasnya.

Etalase

Namun, tidak cukup dengan meningkatkan kemampuan dan kapasitas, industri pertahanan nasional juga membutuhkan etalase untuk unjuk gigi. Pemerintah mewujudkan itu dengan mengadakan Indo Defence, ajang pameran alutsista bertaraf internasional.

Dalam 20 tahun, Kemenhan menggelar sepuluh kali kegiatan dua tahunan itu. Sejak tahun 2004, berbagai industri pertahanan dari dalam dan luar negeri memamerkan produk hingga pengembangan teknologi di sektor pertahanan dan keamanan.

Dalam kurun waktu tersebut, Donny menilai, Indo Defence berdampak pada koneksi lintas kluster. Bertemunya industri besar, menengah, kecil, lembaga riset, dan start up (perusahaan rintisan) teknologi ini kemudian memperkuat ekosistem industri dan ekosistem produk dalam negeri.

Sementara itu, untuk pasar global, Indo Defence memberikan ruang bagi eksposur internasional dan pengakuan kredibilitas terhadap produk- produk yang ada. Hal tersebut menumbuhkan kepercayaan mitra luar negeri untuk memberikan transfer teknologi (transfer of technology/ToT) hingga transfer pengetahuan (transfer of knowledge).

Menurut Donny, kesepakatan bersama, seperti joint marketing, joint venture, dan joint development, juga bisa terjalin dalam momen pameran ini. Bahkan, bisa saja terjadi kontrak pengadaan dan investasi langsung saat Indo Defence berlangsung.

”Indo Defence mendorong penguatan dan pengembangan kapasitas industri pertahanan nasional. Ini dibuktikan dengan terus meningkatnya partisipasi dalam industri pertahanan nasional dalam Indo Defence,” ujarnya.

Pada penyelenggaraan 2025, sebanyak 525 industri pertahanan nasional mengikuti Indo Defence. Angka ini lebih besar daripada penyelenggaraan 2022 dengan partisipasi 376 pelaku industri. Jumlah ini juga jauh lebih banyak jika dibandingkan awal Indo Defence pada 2004 yang hanya diisi oleh 37 pelaku industri pertahanan nasional.

Sementara itu, perjanjian kerja sama mulai dari antarperusahaan, antarpemerintah, hingga antara perusahaan dan pemerintah juga meningkat. Pada Indo Defence 2025, terjalin 70 perjanjian kerja sama dari berbagai bentuk. Angka ini meningkat ketimbang 2022 sebanyak 56 perjanjian.

”Jadi, Indo Defence tidak sekadar ajang pameran atau promosi global industri pertahanan global, tetapi juga mengakselerasi ToT dan kerja sama internasional, memperkuat ekosistem industri dalam negeri, hingga meningkatkan TKDN,” kata Donny.

Lebih dari itu, menurut dia, gelaran pameran itu juga meningkatkan kebanggaan nasional serta memperkuat diplomasi dan posisi strategis Indonesia di mata dunia.

Indo Defence mendorong penguatan dan pengembangan kapasitas industri pertahanan nasional.

Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kemenhan Laksamana Muda Sri Yanto menekankan, pameran berupa Indo Defence menjadi sarana efektif dalam memamerkan produk industri pertahanan. Hal ini karena transaksinya hanya dilakukan terbatas oleh pihak-pihak tertentu.

”Penyerap produk industri ini terbatas, hanya yang diizinkan oleh pemerintah saja yang boleh beli. Jadi, pasarnya terarah, tidak luas. Jadi, promosi yang paling sederhana adalah pameran. Saat ekshibisi pertahanan, semua akan berkumpul dan di sanalah ajang memamerkan produk kita,” kata Sri Yanto saat ditemui secara terpisah.

Perkembangan teknologi

Ia menegaskan, Indonesia membuka peluang untuk industri pertahanan dalam negeri seluas-luasnya. Namun, pangsa pasar yang sempit tetap membuat para pelaku industri harus terus berinovasi.

Industri pertahanan, lanjutnya, memiliki beberapa tingkatan dan pelaku industri pertahanan harus bisa membaca kemampuan serta peluang pasar. Setiap tingkatan memproduksi komponen yang dibutuhkan sehingga ekosistem industri pertahanan nasional bisa berkembang ke arah yang lebih baik.

”Aturan sekarang sudah membuka peluang yang sama antara swasta dan pemerintah. Namun, kalau kita lihat lagi, pasar ini (pertahanan), kan, mendekati monopsoni, pasarnya hanya pemerintah. Jadi, tidak mungkin semuanya ada di tier 1 (produksi alutsista), tetapi bisa diproduksi komponen pada tier 2, 3, dan seterusnya. Jadi, nanti akan terbentuk supply chain (rantai pasok) yang kuat,” katanya.

Secara terpisah, CEO PT Infoglobal Teknologi Semesta Johanes Adi Sasongko juga berharap pihak swasta semakin diberi kesempatan untuk berkiprah dalam industri pertahanan nasional. Perusahaan yang bergerak di bidang avionik, radar, dan pengembangan sistem pertahanan ini juga turut berpartisipasi dalam Indo Defence 2025. Dalam ajang tersebut, PT Info Global menampilkan drone di area terbuka dengan nama WANI–23.

Sebagai salah satu peserta, Johanes menilai, Indo Defence bisa menjadi etalase dalam memperlihatkan kemajuan teknologi Indonesia di bidang pertahanan. Oleh karena itu, dia berharap penyelenggaraan Indo Defence lebih memprioritaskan produk dalam negeri untuk pasar nasional.

”Saat ini, kami melihat alat pertahanan dalam negeri dengan komponen dari dalam negeri masih di bawah 10 persen. Ini perlu dorongan yang lebih serius agar industri nasional bisa tumbuh dan mandiri,” lanjutnya.

Kemandirian bisa diraih jika semua industri pertahanan nasional mampu berdaya saing di setiap tingkatannya. Transfer teknologi yang diraih dari produk pertahanan beberapa negara bisa menjadi peluang agar Indonesia bisa menjadi tuan rumah dalam industri pertahanan dalam negeri, bahkan menjadi produsen kelas dunia.

Sumber: https://www.kompas.id/artikel/membangun-industri-pertahanan-nasional-berkelas-dunia?utm_source=link&utm_medium=shared&utm_campaign=tpd_-_android_traffic

 

376 Viewsindustri pertahanan, kompas.com, kementerian pertahanan RI